Rabu, 05 Maret 2014

Melawan angin

Aku berlari seperti angin. Kencang dan kurasakan hembusannya. Oh, aku tersadar bukan aku anginnya tapi aku melawan anginnya. Tersamar hujan lebat ditengah pohon rindang yang sekarang ini makin menyebalkan. Aku lelah dan aku tidak melihat mereka dibelakang. Air mata mengalir dan berhenti, gerakan pandangku ke segala penjuru arah untuk melihat mereka. Hmm, bukan mereka sebenernya tapi dia. Dia yang menyuruhku berlari lebih dulu meninggalkan perkemahan sialan itu dan ia menghadang si pembunuh biadab.

Aku kembali menangis dan teringat apa yang ia ucapkan saat sehari sebelum keberangkatan bulan madu kami.

"Aku cinta kamu. Ini bukan gombal pasca nikah, ya. Kita tahu kini kita akan hidup bersama selamanya. Jadi aku akan menjagamu selamanya. Cintamu diatas segalanya untuku."

Aku terus berlari melawan angin dan berusaha untuk mencari pertolongan. Aku akan menyelamatkan ia yang telah mencintaiku. Cintaku dengannya pun diatas segalanya. 




Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar