Jingga sudah jatuh, digantikan gelap yang mereka sebut
dengan malam. Aku disini, dikamar seorang diri sambil menatap keluar. Kaca
jendela ini tampak berembun saat kuhembuskan nafas dari mulutku. Udaranya lebih
dingin dari kemarin.[Makin terasa]
Aku perlu selimut sekarang. Orang bodoh juga tahu itu
yang sangat dibutuhkan. Kecuali orang bodoh yang mau mati kedinginan. Dan orang
bodoh itu mungkin bukan aku, mungkin.
Kubuka lemari besar, kulihat selimut tertumpuk paling
bawah. Kutarik pelan, karena aku tak mau tumpukan bajuku diatasnya berjatuhan.
Udara pun makin dingin sekarang. Semakin ditarik, selimut itu seakan tak mau
untuk bergerak sedikitpun. Aku sudah tidak sabar untuk merasakan kehangatan
padahal. Maka kupaksakan menariknya dengan kencang sekuat tenagaku. Hingga urat
tangan sampai terlihat.
-Bruukkk!!...
(Suara baju-baju berjatuhan)
-hikkss...
hikkss... hikss...
Air mataku mengalir deras. Dada ini sesak. Diantara baju-bajuku
yang berhamburan dan selimutnya yang agak berdebu di genggamanku, Aku menangis.
Pikiran itu datang.
Sahabatku, selimut
ini kupakai sekarang. Aku sebelumnya memang orang yang bodoh itu. Juga maafkan
karena aku telah menangis. Aku tidak sanggup menahannya lagi. Kepergianmu
terlalu cepat untukku, sahabat. Kehangatan candamu yang dulu sudah tidak ada
sekarang. Aku rindu itu sahabat. Joni, sahabatku, selimutmu ini akan kupakai untuk
seterusnya.
Aku terus menangis pada malam
dingin itu.
Selimut Joni menjadi penghangatku.
Terima kasih Joni, sahabat asrama terbaiku.
Selimut Joni menjadi penghangatku.
Terima kasih Joni, sahabat asrama terbaiku.
RIP
JONI RUHMAN
08-01-2014
08-01-2014
...
:')
BalasHapus